GUNUNG SALAK
“…yang tak
terlihat belum tentu tidak ada”
Masih
ingat dengan ayahnya Kailash yang menjadi salah satu founder dari komunitas
outdoor cukup besar dikotanya? Ya, kali ini masih dengan taman kakaknya Kailash
dan kali ini pula Kailash mencoba mendaki salah satu gunung yang cukup familiar
tetapi bukan karna keindahannya, melaikan daya tarik mistis yang menjadi
rahasia umum dikalangan pendaki. Iya Gunung Salak namanya.
Gunung
ke-2 menjadi gunung yang cukup baru baginya, meskipun gunung Salak selalu
menyambut pagi seorang Kailash dengan hijaunya Gunung dan birunya langit, karna
kebetulan rumahnya ada diantara Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak. Oh iya
kalian sudah tau belum kalau nama gunung Salak itu bukan salak buah lo? Banyak
orang berpikir Salak berasal dari buah salak, dan ini lumayan sejalan dengan
cerita ceria yang ayahku ceritakan, banyak pendaki yang hilang di Gunung ini
karna tergiur dengan hamparan buah salak dan wangi wangian salak yang menggoda,
lalu masuk dan lenyap tidak kembali lagi. Itulah kiranya ceritanya yang Kailash
dapatkan dari ayahnya, tapi menurut beberapa referensi, nama Gunung Salak itu
berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “Salaka” yang memiliki arti “Perak”, maka
kita bisa menyebutnya Gunung Perak, ntah itu dulunya ada perak yang banyak atau
apa, aku kurang tau akan hal itu, tapi konon katanya di gunung ini pernah
berdiri kerajaan yang bernama Salakanagara pada abad IV dan V Masehi, dan
banyak yang mengira nama Salak berasal dari nama depan Kerajaan tersebut.
Cukup
berkutat dengan asal usul Gunung Salak ini, kali ini pendakian yang cukup ramai
karna ini adalah pendakian Open Trip dari komunitas. JARI Adventure, itu adalah nama dari
komunitas yang ayah Kailas dirikan bersama teman temannya. Lucu sekali bukan
namanya? Akan tetapi ayah Kailash menjelaskan dengan detail bahwa Jari
Adventure ini memiliki filosofis yang mendalam karna Jari ini memiliki
singakatan (Jelajah Alam Rimba Indonesia). Ayahnya pernah mengatakan bahwa kita
bisa menjelajahi apaun dimanapun dan dengan apapun hanya dengan menggunakan
tangan kita, dengan jari kita, baik itu secara langsung atau menggunakan
gadget.
kembali
lagi ke pendakian, pendakian kali ini menjadi momen yang cukup bagus untuk
Kailash, kenapa? Karena pendakian kali ini adalah pendakian dimana seorang
Kailash memberanikan diri melawan rasa takut untuk keduakalinya setelah
pendakian pertamanya ke Gunung Gede, banyak sekali pertimbangan sebelum
akhirnya Kailash memutuskan iya aku ikut. Mulai dari issue pendaki hilang,
jalur yang tidak cukup jelas, dan tentunya musim hujan yang akhir akhir ini
selalu mampir dilangit Sukabumi. Tapi setelah menimbang nimbang dan berbicara
dengan sang ayah, akhirnya Kailash memutuskan untuk ikut dengan rombongan.
Hari
itu pukul 6 pagi, rombongan sudah mulai berkumpul, sepertinya tidak perlu
diceritakan lagi permasalahan teman teman yang selalu ada saja yang telat,
karna dalam kegiatan yang melibatkan banyak orang barang tentu ada saja yang
telat, sesuatu yang tidak baik tapi jalan tengahnya adalah memakluminya saja.
28 orang peserta tapi ditengah proses perencanaan ada satu orang yang
mengundurkan diri , entah kenapa, mungkin ada kegiatan yang tidak bisa
diwakilkan.
Rombongan tiba sekitar jam 8 pagi di pintu gerbang
pendakian, dan mereka langsung melakukan registrasi. Tenyata dari gerbang
registrasi ke pintu awal pendakian harus memakan waktu lagi, tapi ini tidak
menjadi soal untuk seorang Kailas. Sepanjang kiri kanan jalan berdiri koko
pohon pohon kayu damar yang tinggi, membuat udara disekitarnya menjadi lembab
dan dingin, apalagi cahaya matahari terlihat malu malu untuk sekadar mengintip
dan menembus lebatnya pepohonan.
Mereka
tiba kiria kira sekitar pukul 9 pagi dan langsung bergegas untuk persiapan
pendakian. Setelah semua dirasa siapa dan formasi perjalanan telah diatur
sedemikian rupa, rombongan pun memulai pendakian sekitar pukul 9 leat 15 menit.
Medan yang dilalui diawal pendakian cukup curam dan sama sialnya ketika Kailash
mendaki untuk pertama kalinya di Gunung
Gede, dan di gunung yang ini sama saja, Kailash langsung dihajar dengan
tanjakan yang membuat lutut bergetar. Tapi diakhir tanjakan jalur yang dilalui
terasa lebih landai dan cukup terbuka. Kailash beranggapan bahwa pemandangan di
Gunung Salak tidak seindah gunung sebelumnya, Gunung Salak memiliki tipe hutan
hijau tropis yang cukup lebat, dimana selama perjalanan yang bisa dilihat hanya
hutan belantara saja, dan tidak ada pemandangan selain itu, dan hal ini akan
mereka lalui hingga menuju puncak sana.
Setelah
melalu jalan yang cukup landau, rombongan akhirnya tida di persimpangan antara
menuju Puncak Gunung Salak dan menuju ke Kawah Ratu. Rombongan beristirahat dan
membuka beberapa perbekalan untuk makan siang. Beberapa teman Kailash yang
sebelumnya pernah mendaki gunung Salak ini memberitahu bahwa setelah simpang
Bajuri pendakian Gunung Salak adalah pendakian yang sebenarnya, jaraknya hanya
5km menuju puncak. Sialnya ini tidak sesaui harapan Kailash, ternyata baru saja
5 menit, mereka dihadapkan dengan jalur
berlumpur yang membuat kaki mereka menjadi berat saat melangkah. Ada yang lebih
sial dari jalur berlumpur, mereka menuruni jalur dan sampai di sebuah hamparan
rawa berlumbur dan yang mau tidak mau
harus mereka lewati, dikarenaka ini
menjadi jalur satu satunya dan tidak ada alternative lain. Memang sekarang ini
musim hujan, jadi lumpur di sepanjang jalur ini cukup banyak, dan konon katanya
dimusim kemaraupun jalur ini kadang masih berlumpur, itu dikarnakan cahaya
matahari tidak sampai menembus pepohonan yang menyelimuti sepanjang jalur
pendakian,
“
ahhh jalur sialan,” Keluh Kailash
lagi lagi Kailash mengeluh tentang jalur
pendakian. Tapi persetan dengan jalur pendakian, Kailash harus tetap
bersemangat dan tetap melangkah untuk mencapai puncak.
Tapat
di pukul 5 sore mereka telah sampai di puncak bayangan, ini menjadi area
camping terakhir, dan tidak cukup luas untuk
mereka mendirikan tenda disini.
Bisa terbayang , 27 orang untuk sekitar 5 sampai 6 tenda tentu saja akan
kesulitan untuk mendirikannya dilahan yang sempit, ditambah lagi memang rencana
awal mereka adalah camp di puncak Gunung
Salak. Ada kejadian unik dan cukup menyebalkan, masih ingat dengan 1orang yang
gagal ikut? Yah sial mereka mendaftarkan orang tersebut, sehingga kita
terhitung mendaki ber-28. Kami mulai berhitung, takut-takut ada yang
tertinggal, dan benar saja mereka merasa kekurangan orang, mereka melihat data
ada sekitar 28 orang, tapi yang ada
dilokasi hanya 27orang. Kondisi saat itu hujan deras jadi mereka sangat
kesulitan untuk melakukan perhitungan peserta, sampai akhirnya setelah panik
sana sini, ditemukan kalau mereka memang hanya ber-27 saja, karna 1orang telah
mengundurkan diri untuk tidak ikut. Nafas dan raut muka tenang terlihat dari
ketua panitia yang merasa lega denga hal tersebut.
Mereka
menunggu cukup lama, dan hujan hujan tidak kunjung reda. Yang terjadi adalah
obrolan santai diantara peserta pendakian mulai terdengar ramai, ada yang makan
mie instan, menyeruput kopi dan menyalakan kompor untuk sekadar menghangatkan
tanga mereka. Hingga pada akhirnya sekitar pukul 6 sore lebih 15 menit hujan
berehenti dari jatuhnya dan rombongan berencana untuk melanjutkan perjalanan.
Kali
ini jalur menukik tajam ke arah bawah dan naik diujung jalannya, jalur sangat
tidak terlihat dan mereka mulai memasang headlamp dan berusaha untuk selalu
diformasi yang sama. Jalan setapak yang rumit dan terjal tentu menjadi
tantangan tersendiri, dan Kailas masih dengan keluh kesahnya,
“
yatuhan, jalur sialan”. Kailas menggerutu dalam hatinya
Selain
jalur yang menyulitkan langkah Kailash dan teman temannya, mereka juga harus
berhati hati kalau kalau ada lubang yang tidak terlihat didepan mata. Perlahan
lahan , langkah demi langkah, tanjakan demi tanjakan mereka telah lalu dengan
susah payah. Lagi Kailash bergumam dalam seraya melangkah,
“
benar apa yang mereka bilang, disini mata akan bekerja lebih lama dari
biasanya, kaki yang akan bekerja lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan
bekerja lebih keras dari biasanya, dan mulut yang akan selalu berdoa”. Kailash
terlihat sudah tak tahan lagi dengan keadaan tersebut.
Hari
semakin gelap, terang tak lagi terlihat, hanya sorot senter kepala yang
berusaha menembus gelapnya malam. Pendakian kali ini Kailash berada sedikit
lebih kebelakang dari formasi awal, pada saat yang berasaam rombongan berhenti
sejenak dan melihat ada 2 orang pendaki sedang berajalan menuju arah puncak,
cahaya senter kepala mereka terlihat pudar dalam kegelapan, Kailash mencoba
untuk memanggil,
“
heyyyy “. Teriak Kailash yang cukup keras
Heran
setelah beberapa teriakan dari Kailash dan temannya yang lain, namun tak
kunjung mendapat jawaban dari arah kedua pendaki itu berjalan. Pemimpin
rombongan dibagian paling depan memberi aba aba untuk berjalan kembali supaya
peserta terus bergerak dan tidak kedinginan. Akhirnya setelah lama berjalan dan
berjalan suara sayup pendaki lain yang mengobrol dari arah puncak mulai
terdengar, terlihat senyum tanda bahagia mulai terlihat dari teman teman pun
Kailash yang sudah tak tahan lagi.
“
Puncak 5 menit lagi” ucap seseorang dibarisan depan
Kalimat
ini mulai dipahami Kailash sebagai kalimat yang menyebalkan, bagaimana tidak
hal tersebut hanya menjadi penyemangat sesaat , dan Kailash sangat tidak
menyukai kalimat tersebut.
Sekitar
pukul 9 malam, akhirnya rombongan sampai di Puncak Gunung Salak, perasaan Haru
dan senyumpun terpancar dari peserta rombongan pendakian, dan kata selamat
saling bersahutan satu sama lain, capai yang sedari tadi menggerogoti mental
dan akhirnya terbayarkan. Kailash tertunduk lesu merasai sekujur tubuhnya
kelelahan, tangan sudah tak kuasa lagi untuk sekadar memegang minum, kaki tak
kuasa lagi untuk berdiri.
Setelah
semua dirasa memungkinkan, rombongan mendirikan tenda , sebagian orang
berkumpul untuk sekadar brcerita tentang perjalanan sedari bawah hingga
akhirnya sampai di Puncak, sebagian lagi membersihkan lumpur lumpur yang
menempel di baju celana dan sepatu mereka. Riuh suara manusia berbicara
terdengar sahut sahutan, perasaan seperti ini adalah perasaan yang
membahagiakan bagi sebagian pendaki, ditemani dinginnya malam yang sesekali
kabut turun untuk sekadar menyapa mereka yang sedang asyik bersua dan
berbincang. Sudut kota tak terlihat disini, tak seperti pendakian pertama
Kailash ke Gunung Gede, yang mana Kailash sangat takjup dengan hamparan sudut
kota dan lampu lampu yang berkilauan di kejauhan, disini tidak, tidak ada
sedikitpun, hanya gelap sejauh mata memandang.
Malam
berlalu, tugas sang surya menyapa pagi kali ini. Kailash yang sangat kelelahan tentu
saja tidak sempat bertemu dengan sang surya yang diam diam menyapa dipagi buta,
dia terbangun cukup siang dan mendapati teman teman yang lain sedang asyik
mengobrol sambil meminum coklat panas dan biscuit jahe di masing masing tangan
mereka.
“
selamat pagiiii duniiiaaaa”. Kailash menyapa teman teman nya
“
wihhh udah bangun lu”. Dimas menyaut dari kerumunan yang sedang asyik mengobrol
itu
“
udah dong, cape banget sih pendakian kali ini, setuju nggk?”. Kailash bertanya
“
beda ya sama gunung sebelumnya,”. Sambil tertawa Dimas seperti sedang meledek
Kailash
Kailash
pun terlibat obrolan hangat dengan teman teman nya itu. Disini Kailash mendapat
banyak teman baru, mereka berfoto ria dengan pelakat pendana Puncak Manik 2211
Mdpl Gunung Salak. Sementara yang lain sedang sibuk mempersiapkan makanan,
Kailash tengah asyik memandangi puncak Gunung Salak yang lain sembari
membayangkan seorang Herman Lantang yang menjelajahi enam puncak Gunung Salak.
Herman
Lantang adalah sosok yang Kailash kagumi setelah seorang Soe Hok Gie yang
menjadi idolanya di dunia pendakian. Terlebih lagi setelah menonton film
dokumentar tentang Soe Hok Gie, dan Herman Lantang yang menjadi orang yang
sangat dekat dengan Soe Hok Gie.
Setelah
puas memandangi hijaunya pegunungan gunung Salak, Kailsh dipanggil untuk makan
sebelum kembali turun. Dan sekitar pukul 11 siang, rombongan mulai siap siap
utuk turun gunung.
Turun
dari gunung ternyata sama menyebalkannya ketika naik gunung Salak, kali ini
selain beban yang terasa menjadi 2 kali lipat lebih berat karena faktor
turunan, ditambah lagi jalur yang berlumpur dan terkadang hujan sebentar ketika
kabut turun, dan hilang secara tiba tiba, sangat menyebalkan. Lagi lagi mereka
diguyur hujan yang begitu deres, dan
terpaksa harus mendirikan bivak ditengah perjalanan, namun kali ini cukup beruntung
karena berada di lahan yang cukup luas untuk membuat bivak dan mendirikan
flysheet.
Setelah
berkutat dengan jalur yang menyebalkan, sekitar pukul 6 sore ba’da maghrib,
mereka sampai dipintu gerbang jalur pendakian. Masih ingat dengan tempat
registrasi dan pintu gerbang itu berjarak cukup jauh?. Sial malam itu mereka
mengalami kesialan, mobil tidak ada yang bisa menjemput mereka hingga pintu
gerebang pendakian. Tapi untungnya setelah menghubungi kesana kemari, ada rekan
dari panitia lain yang bisa dihubungi untuk menyewa mobil dan menjemput mereka,
meskipun mereka hanya bersedia menjemput dan mengantar hingga terminal saja,
yang mana jarak menuju ke rumah masih sangat jauh.
Tidak
cukup disitu, mereka mengalami kesialan yang lain, mobil yang harusnya menjemput
mereka untuk pulang kerumah ternyata mereka pergi begitu saja, membuat panita
harus berpikir ulang untuk mencari kendaraan baru. Mereka terdampar begitu
saja, tidur diemperan pertokoan hingga malam berubah menjadi pagi buta.
Sekitar
pukul 3 pagi akhirnya mereka menemukan angkuta yang bis amengantar mereka untuk
kembali pulang ke rumah.
“..
pendakian ini sangat menyebalkan”. Kailash lagi lagi mengerutu.
Akhirnya
di jam 6 pagi mereka sampai di basecamp dan pulang kembali ke rumah masing
masing. Pendakian yang luar biasa, menguras tenaga, mental dan kesabaran yang
luar biasa.
“…
terimakasih Gunung Salak, aku mencintaimu”. Kailash merasa terharu dengan
pendakian kali ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar