Translate

Rabu, 31 Agustus 2022

GUNUNG SALAK

 

GUNUNG SALAK

“…yang tak terlihat belum tentu tidak ada”

 

Masih ingat dengan ayahnya Kailash yang menjadi salah satu founder dari komunitas outdoor cukup besar dikotanya? Ya, kali ini masih dengan taman kakaknya Kailash dan kali ini pula Kailash mencoba mendaki salah satu gunung yang cukup familiar tetapi bukan karna keindahannya, melaikan daya tarik mistis yang menjadi rahasia umum dikalangan pendaki. Iya Gunung Salak namanya.

Gunung ke-2 menjadi gunung yang cukup baru baginya, meskipun gunung Salak selalu menyambut pagi seorang Kailash dengan hijaunya Gunung dan birunya langit, karna kebetulan rumahnya ada diantara Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak. Oh iya kalian sudah tau belum kalau nama gunung Salak itu bukan salak buah lo? Banyak orang berpikir Salak berasal dari buah salak, dan ini lumayan sejalan dengan cerita ceria yang ayahku ceritakan, banyak pendaki yang hilang di Gunung ini karna tergiur dengan hamparan buah salak dan wangi wangian salak yang menggoda, lalu masuk dan lenyap tidak kembali lagi. Itulah kiranya ceritanya yang Kailash dapatkan dari ayahnya, tapi menurut beberapa referensi, nama Gunung Salak itu berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “Salaka” yang memiliki arti “Perak”, maka kita bisa menyebutnya Gunung Perak, ntah itu dulunya ada perak yang banyak atau apa, aku kurang tau akan hal itu, tapi konon katanya di gunung ini pernah berdiri kerajaan yang bernama Salakanagara pada abad IV dan V Masehi, dan banyak yang mengira nama Salak berasal dari nama depan Kerajaan tersebut.

Cukup berkutat dengan asal usul Gunung Salak ini, kali ini pendakian yang cukup ramai karna ini adalah pendakian Open Trip dari komunitas.  JARI Adventure, itu adalah nama dari komunitas yang ayah Kailas dirikan bersama teman temannya. Lucu sekali bukan namanya? Akan tetapi ayah Kailash menjelaskan dengan detail bahwa Jari Adventure ini memiliki filosofis yang mendalam karna Jari ini memiliki singakatan (Jelajah Alam Rimba Indonesia). Ayahnya pernah mengatakan bahwa kita bisa menjelajahi apaun dimanapun dan dengan apapun hanya dengan menggunakan tangan kita, dengan jari kita, baik itu secara langsung atau menggunakan gadget.

kembali lagi ke pendakian, pendakian kali ini menjadi momen yang cukup bagus untuk Kailash, kenapa? Karena pendakian kali ini adalah pendakian dimana seorang Kailash memberanikan diri melawan rasa takut untuk keduakalinya setelah pendakian pertamanya ke Gunung Gede, banyak sekali pertimbangan sebelum akhirnya Kailash memutuskan iya aku ikut. Mulai dari issue pendaki hilang, jalur yang tidak cukup jelas, dan tentunya musim hujan yang akhir akhir ini selalu mampir dilangit Sukabumi. Tapi setelah menimbang nimbang dan berbicara dengan sang ayah, akhirnya Kailash memutuskan untuk ikut dengan rombongan.

Hari itu pukul 6 pagi, rombongan sudah mulai berkumpul, sepertinya tidak perlu diceritakan lagi permasalahan teman teman yang selalu ada saja yang telat, karna dalam kegiatan yang melibatkan banyak orang barang tentu ada saja yang telat, sesuatu yang tidak baik tapi jalan tengahnya adalah memakluminya saja. 28 orang peserta tapi ditengah proses perencanaan ada satu orang yang mengundurkan diri , entah kenapa, mungkin ada kegiatan yang tidak bisa diwakilkan.

Rombongan  tiba sekitar jam 8 pagi di pintu gerbang pendakian, dan mereka langsung melakukan registrasi. Tenyata dari gerbang registrasi ke pintu awal pendakian harus memakan waktu lagi, tapi ini tidak menjadi soal untuk seorang Kailas. Sepanjang kiri kanan jalan berdiri koko pohon pohon kayu damar yang tinggi, membuat udara disekitarnya menjadi lembab dan dingin, apalagi cahaya matahari terlihat malu malu untuk sekadar mengintip dan menembus lebatnya pepohonan.

Mereka tiba kiria kira sekitar pukul 9 pagi dan langsung bergegas untuk persiapan pendakian. Setelah semua dirasa siapa dan formasi perjalanan telah diatur sedemikian rupa, rombongan pun memulai pendakian sekitar pukul 9 leat 15 menit. Medan yang dilalui diawal pendakian cukup curam dan sama sialnya ketika Kailash mendaki untuk pertama kalinya di  Gunung Gede, dan di gunung yang ini sama saja, Kailash langsung dihajar dengan tanjakan yang membuat lutut bergetar. Tapi diakhir tanjakan jalur yang dilalui terasa lebih landai dan cukup terbuka. Kailash beranggapan bahwa pemandangan di Gunung Salak tidak seindah gunung sebelumnya, Gunung Salak memiliki tipe hutan hijau tropis yang cukup lebat, dimana selama perjalanan yang bisa dilihat hanya hutan belantara saja, dan tidak ada pemandangan selain itu, dan hal ini akan mereka lalui hingga menuju puncak sana.

Setelah melalu jalan yang cukup landau, rombongan akhirnya tida di persimpangan antara menuju Puncak Gunung Salak dan menuju ke Kawah Ratu. Rombongan beristirahat dan membuka beberapa perbekalan untuk makan siang. Beberapa teman Kailash yang sebelumnya pernah mendaki gunung Salak ini memberitahu bahwa setelah simpang Bajuri pendakian Gunung Salak adalah pendakian yang sebenarnya, jaraknya hanya 5km menuju puncak. Sialnya ini tidak sesaui harapan Kailash, ternyata baru saja 5 menit, mereka  dihadapkan dengan jalur berlumpur yang membuat kaki mereka menjadi berat saat melangkah. Ada yang lebih sial dari jalur berlumpur, mereka menuruni jalur dan sampai di sebuah hamparan rawa berlumbur dan  yang mau tidak mau harus  mereka lewati, dikarenaka ini menjadi jalur satu satunya dan tidak ada alternative lain. Memang sekarang ini musim hujan, jadi lumpur di sepanjang jalur ini cukup banyak, dan konon katanya dimusim kemaraupun jalur ini kadang masih berlumpur, itu dikarnakan cahaya matahari tidak sampai menembus pepohonan yang menyelimuti sepanjang jalur pendakian,

“ ahhh jalur sialan,” Keluh Kailash

 lagi lagi Kailash mengeluh tentang jalur pendakian. Tapi persetan dengan jalur pendakian, Kailash harus tetap bersemangat dan tetap melangkah untuk mencapai puncak.

Tapat di pukul 5 sore mereka telah sampai di puncak bayangan, ini menjadi area camping terakhir, dan tidak cukup luas untuk  mereka  mendirikan tenda disini. Bisa terbayang , 27 orang untuk sekitar 5 sampai 6 tenda tentu saja akan kesulitan untuk mendirikannya dilahan yang sempit, ditambah lagi memang rencana awal mereka  adalah camp di puncak Gunung Salak. Ada kejadian unik dan cukup menyebalkan, masih ingat dengan 1orang yang gagal ikut? Yah sial mereka mendaftarkan orang tersebut, sehingga kita terhitung mendaki ber-28. Kami mulai berhitung, takut-takut ada yang tertinggal, dan benar saja mereka merasa kekurangan orang, mereka melihat data ada sekitar 28 orang,  tapi yang ada dilokasi hanya 27orang. Kondisi saat itu hujan deras jadi mereka sangat kesulitan untuk melakukan perhitungan peserta, sampai akhirnya setelah panik sana sini, ditemukan kalau mereka memang hanya ber-27 saja, karna 1orang telah mengundurkan diri untuk tidak ikut. Nafas dan raut muka tenang terlihat dari ketua panitia yang merasa lega denga hal tersebut.

Mereka menunggu cukup lama, dan hujan hujan tidak kunjung reda. Yang terjadi adalah obrolan santai diantara peserta pendakian mulai terdengar ramai, ada yang makan mie instan, menyeruput kopi dan menyalakan kompor untuk sekadar menghangatkan tanga mereka. Hingga pada akhirnya sekitar pukul 6 sore lebih 15 menit hujan berehenti dari jatuhnya dan rombongan berencana untuk melanjutkan perjalanan.

Kali ini jalur menukik tajam ke arah bawah dan naik diujung jalannya, jalur sangat tidak terlihat dan mereka mulai memasang headlamp dan berusaha untuk selalu diformasi yang sama. Jalan setapak yang rumit dan terjal tentu menjadi tantangan tersendiri, dan Kailas masih dengan keluh kesahnya,

“ yatuhan, jalur sialan”. Kailas menggerutu dalam hatinya

Selain jalur yang menyulitkan langkah Kailash dan teman temannya, mereka juga harus berhati hati kalau kalau ada lubang yang tidak terlihat didepan mata. Perlahan lahan , langkah demi langkah, tanjakan demi tanjakan mereka telah lalu dengan susah payah. Lagi Kailash bergumam dalam seraya melangkah,

“ benar apa yang mereka bilang, disini mata akan bekerja lebih lama dari biasanya, kaki yang akan bekerja lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, dan mulut yang akan selalu berdoa”. Kailash terlihat sudah tak tahan lagi dengan keadaan tersebut.

Hari semakin gelap, terang tak lagi terlihat, hanya sorot senter kepala yang berusaha menembus gelapnya malam. Pendakian kali ini Kailash berada sedikit lebih kebelakang dari formasi awal, pada saat yang berasaam rombongan berhenti sejenak dan melihat ada 2 orang pendaki sedang berajalan menuju arah puncak, cahaya senter kepala mereka terlihat pudar dalam kegelapan, Kailash mencoba untuk memanggil,

“ heyyyy “. Teriak Kailash yang cukup keras

Heran setelah beberapa teriakan dari Kailash dan temannya yang lain, namun tak kunjung mendapat jawaban dari arah kedua pendaki itu berjalan. Pemimpin rombongan dibagian paling depan memberi aba aba untuk berjalan kembali supaya peserta terus bergerak dan tidak kedinginan. Akhirnya setelah lama berjalan dan berjalan suara sayup pendaki lain yang mengobrol dari arah puncak mulai terdengar, terlihat senyum tanda bahagia mulai terlihat dari teman teman pun Kailash yang sudah tak tahan lagi.

“ Puncak 5 menit lagi” ucap seseorang dibarisan depan

Kalimat ini mulai dipahami Kailash sebagai kalimat yang menyebalkan, bagaimana tidak hal tersebut hanya menjadi penyemangat sesaat , dan Kailash sangat tidak menyukai kalimat tersebut.

Sekitar pukul 9 malam, akhirnya rombongan sampai di Puncak Gunung Salak, perasaan Haru dan senyumpun terpancar dari peserta rombongan pendakian, dan kata selamat saling bersahutan satu sama lain, capai yang sedari tadi menggerogoti mental dan akhirnya terbayarkan. Kailash tertunduk lesu merasai sekujur tubuhnya kelelahan, tangan sudah tak kuasa lagi untuk sekadar memegang minum, kaki tak kuasa lagi untuk berdiri.

Setelah semua dirasa memungkinkan, rombongan mendirikan tenda , sebagian orang berkumpul untuk sekadar brcerita tentang perjalanan sedari bawah hingga akhirnya sampai di Puncak, sebagian lagi membersihkan lumpur lumpur yang menempel di baju celana dan sepatu mereka. Riuh suara manusia berbicara terdengar sahut sahutan, perasaan seperti ini adalah perasaan yang membahagiakan bagi sebagian pendaki, ditemani dinginnya malam yang sesekali kabut turun untuk sekadar menyapa mereka yang sedang asyik bersua dan berbincang. Sudut kota tak terlihat disini, tak seperti pendakian pertama Kailash ke Gunung Gede, yang mana Kailash sangat takjup dengan hamparan sudut kota dan lampu lampu yang berkilauan di kejauhan, disini tidak, tidak ada sedikitpun, hanya gelap sejauh mata memandang.

Malam berlalu, tugas sang surya menyapa pagi kali ini. Kailash yang sangat kelelahan tentu saja tidak sempat bertemu dengan sang surya yang diam diam menyapa dipagi buta, dia terbangun cukup siang dan mendapati teman teman yang lain sedang asyik mengobrol sambil meminum coklat panas dan biscuit jahe di masing masing tangan mereka.

“ selamat pagiiii duniiiaaaa”. Kailash menyapa teman teman nya

“ wihhh udah bangun lu”. Dimas menyaut dari kerumunan yang sedang asyik mengobrol itu

“ udah dong, cape banget sih pendakian kali ini, setuju nggk?”. Kailash bertanya

“ beda ya sama gunung sebelumnya,”. Sambil tertawa Dimas seperti sedang meledek Kailash

Kailash pun terlibat obrolan hangat dengan teman teman nya itu. Disini Kailash mendapat banyak teman baru, mereka berfoto ria dengan pelakat pendana Puncak Manik 2211 Mdpl Gunung Salak. Sementara yang lain sedang sibuk mempersiapkan makanan, Kailash tengah asyik memandangi puncak Gunung Salak yang lain sembari membayangkan seorang Herman Lantang yang menjelajahi enam puncak Gunung Salak.

Herman Lantang adalah sosok yang Kailash kagumi setelah seorang Soe Hok Gie yang menjadi idolanya di dunia pendakian. Terlebih lagi setelah menonton film dokumentar tentang Soe Hok Gie, dan Herman Lantang yang menjadi orang yang sangat dekat dengan Soe Hok Gie.

Setelah puas memandangi hijaunya pegunungan gunung Salak, Kailsh dipanggil untuk makan sebelum kembali turun. Dan sekitar pukul 11 siang, rombongan mulai siap siap utuk turun gunung.

Turun dari gunung ternyata sama menyebalkannya ketika naik gunung Salak, kali ini selain beban yang terasa menjadi 2 kali lipat lebih berat karena faktor turunan, ditambah lagi jalur yang berlumpur dan terkadang hujan sebentar ketika kabut turun, dan hilang secara tiba tiba, sangat menyebalkan. Lagi lagi mereka diguyur hujan yang begitu  deres, dan terpaksa harus mendirikan bivak ditengah perjalanan, namun kali ini cukup beruntung karena berada di lahan yang cukup luas untuk membuat bivak dan mendirikan flysheet.

Setelah berkutat dengan jalur yang menyebalkan, sekitar pukul 6 sore ba’da maghrib, mereka sampai dipintu gerbang jalur pendakian. Masih ingat dengan tempat registrasi dan pintu gerbang itu berjarak cukup jauh?. Sial malam itu mereka mengalami kesialan, mobil tidak ada yang bisa menjemput mereka hingga pintu gerebang pendakian. Tapi untungnya setelah menghubungi kesana kemari, ada rekan dari panitia lain yang bisa dihubungi untuk menyewa mobil dan menjemput mereka, meskipun mereka hanya bersedia menjemput dan mengantar hingga terminal saja, yang mana jarak menuju ke rumah masih sangat jauh.

Tidak cukup disitu, mereka mengalami kesialan yang lain, mobil yang harusnya menjemput mereka untuk pulang kerumah ternyata mereka pergi begitu saja, membuat panita harus berpikir ulang untuk mencari kendaraan baru. Mereka terdampar begitu saja, tidur diemperan pertokoan hingga malam berubah menjadi pagi buta.

Sekitar pukul 3 pagi akhirnya mereka menemukan angkuta yang bis amengantar mereka untuk kembali pulang ke rumah.

“.. pendakian ini sangat menyebalkan”. Kailash lagi lagi mengerutu.

Akhirnya di jam 6 pagi mereka sampai di basecamp dan pulang kembali ke rumah masing masing. Pendakian yang luar biasa, menguras tenaga, mental dan kesabaran yang luar biasa.

“… terimakasih Gunung Salak, aku mencintaimu”. Kailash merasa terharu dengan pendakian kali ini.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MANUSIA ANJING 19/03/2025 Manusia yang dengan penuh kebebasan , bisa melakukan banyak hal, menjadi manusia yang bebas terbang melewati cakra...