Translate

Selasa, 18 Maret 2025

MANUSIA ANJING

19/03/2025

Manusia yang dengan penuh kebebasan , bisa melakukan banyak hal, menjadi manusia yang bebas terbang melewati cakrawala layaknya seekor burung merpati hijau yang mengepakan sayapnya dan pergi kemana saja mengikuti angin yang membawanya pergi.


Kini manusia itu terjerembab kedalam dunia yang asing, berbau kemunafikan, lengket dan bau bacin yang dengan sepuluh jari tangan menutup hidung pun tidak akan bisa menahannya dan memaksa masuk untuk dicium hingga tenggorokan.


" Sumpah ya bangsat, gua sekarang kehilangan semuanya bangsat, gua nggk bisa lakuin apapun lagi bahkan hal yang gua suka dan buat gua bahagia, sumpah ya, manusia satu ini maksa buat gua diam dan lakuin apapun yang manusia ini minta gua buat lakuin semuanya, jangan kesini jangan kesitu, jangan ketemu dia jangan juga ketemu dia, anjing harus nurut sama tuannya".




Rabu, 31 Agustus 2022

GUNUNG SALAK

 

GUNUNG SALAK

“…yang tak terlihat belum tentu tidak ada”

 

Masih ingat dengan ayahnya Kailash yang menjadi salah satu founder dari komunitas outdoor cukup besar dikotanya? Ya, kali ini masih dengan taman kakaknya Kailash dan kali ini pula Kailash mencoba mendaki salah satu gunung yang cukup familiar tetapi bukan karna keindahannya, melaikan daya tarik mistis yang menjadi rahasia umum dikalangan pendaki. Iya Gunung Salak namanya.

Gunung ke-2 menjadi gunung yang cukup baru baginya, meskipun gunung Salak selalu menyambut pagi seorang Kailash dengan hijaunya Gunung dan birunya langit, karna kebetulan rumahnya ada diantara Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak. Oh iya kalian sudah tau belum kalau nama gunung Salak itu bukan salak buah lo? Banyak orang berpikir Salak berasal dari buah salak, dan ini lumayan sejalan dengan cerita ceria yang ayahku ceritakan, banyak pendaki yang hilang di Gunung ini karna tergiur dengan hamparan buah salak dan wangi wangian salak yang menggoda, lalu masuk dan lenyap tidak kembali lagi. Itulah kiranya ceritanya yang Kailash dapatkan dari ayahnya, tapi menurut beberapa referensi, nama Gunung Salak itu berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “Salaka” yang memiliki arti “Perak”, maka kita bisa menyebutnya Gunung Perak, ntah itu dulunya ada perak yang banyak atau apa, aku kurang tau akan hal itu, tapi konon katanya di gunung ini pernah berdiri kerajaan yang bernama Salakanagara pada abad IV dan V Masehi, dan banyak yang mengira nama Salak berasal dari nama depan Kerajaan tersebut.

Cukup berkutat dengan asal usul Gunung Salak ini, kali ini pendakian yang cukup ramai karna ini adalah pendakian Open Trip dari komunitas.  JARI Adventure, itu adalah nama dari komunitas yang ayah Kailas dirikan bersama teman temannya. Lucu sekali bukan namanya? Akan tetapi ayah Kailash menjelaskan dengan detail bahwa Jari Adventure ini memiliki filosofis yang mendalam karna Jari ini memiliki singakatan (Jelajah Alam Rimba Indonesia). Ayahnya pernah mengatakan bahwa kita bisa menjelajahi apaun dimanapun dan dengan apapun hanya dengan menggunakan tangan kita, dengan jari kita, baik itu secara langsung atau menggunakan gadget.

kembali lagi ke pendakian, pendakian kali ini menjadi momen yang cukup bagus untuk Kailash, kenapa? Karena pendakian kali ini adalah pendakian dimana seorang Kailash memberanikan diri melawan rasa takut untuk keduakalinya setelah pendakian pertamanya ke Gunung Gede, banyak sekali pertimbangan sebelum akhirnya Kailash memutuskan iya aku ikut. Mulai dari issue pendaki hilang, jalur yang tidak cukup jelas, dan tentunya musim hujan yang akhir akhir ini selalu mampir dilangit Sukabumi. Tapi setelah menimbang nimbang dan berbicara dengan sang ayah, akhirnya Kailash memutuskan untuk ikut dengan rombongan.

Hari itu pukul 6 pagi, rombongan sudah mulai berkumpul, sepertinya tidak perlu diceritakan lagi permasalahan teman teman yang selalu ada saja yang telat, karna dalam kegiatan yang melibatkan banyak orang barang tentu ada saja yang telat, sesuatu yang tidak baik tapi jalan tengahnya adalah memakluminya saja. 28 orang peserta tapi ditengah proses perencanaan ada satu orang yang mengundurkan diri , entah kenapa, mungkin ada kegiatan yang tidak bisa diwakilkan.

Rombongan  tiba sekitar jam 8 pagi di pintu gerbang pendakian, dan mereka langsung melakukan registrasi. Tenyata dari gerbang registrasi ke pintu awal pendakian harus memakan waktu lagi, tapi ini tidak menjadi soal untuk seorang Kailas. Sepanjang kiri kanan jalan berdiri koko pohon pohon kayu damar yang tinggi, membuat udara disekitarnya menjadi lembab dan dingin, apalagi cahaya matahari terlihat malu malu untuk sekadar mengintip dan menembus lebatnya pepohonan.

Mereka tiba kiria kira sekitar pukul 9 pagi dan langsung bergegas untuk persiapan pendakian. Setelah semua dirasa siapa dan formasi perjalanan telah diatur sedemikian rupa, rombongan pun memulai pendakian sekitar pukul 9 leat 15 menit. Medan yang dilalui diawal pendakian cukup curam dan sama sialnya ketika Kailash mendaki untuk pertama kalinya di  Gunung Gede, dan di gunung yang ini sama saja, Kailash langsung dihajar dengan tanjakan yang membuat lutut bergetar. Tapi diakhir tanjakan jalur yang dilalui terasa lebih landai dan cukup terbuka. Kailash beranggapan bahwa pemandangan di Gunung Salak tidak seindah gunung sebelumnya, Gunung Salak memiliki tipe hutan hijau tropis yang cukup lebat, dimana selama perjalanan yang bisa dilihat hanya hutan belantara saja, dan tidak ada pemandangan selain itu, dan hal ini akan mereka lalui hingga menuju puncak sana.

Setelah melalu jalan yang cukup landau, rombongan akhirnya tida di persimpangan antara menuju Puncak Gunung Salak dan menuju ke Kawah Ratu. Rombongan beristirahat dan membuka beberapa perbekalan untuk makan siang. Beberapa teman Kailash yang sebelumnya pernah mendaki gunung Salak ini memberitahu bahwa setelah simpang Bajuri pendakian Gunung Salak adalah pendakian yang sebenarnya, jaraknya hanya 5km menuju puncak. Sialnya ini tidak sesaui harapan Kailash, ternyata baru saja 5 menit, mereka  dihadapkan dengan jalur berlumpur yang membuat kaki mereka menjadi berat saat melangkah. Ada yang lebih sial dari jalur berlumpur, mereka menuruni jalur dan sampai di sebuah hamparan rawa berlumbur dan  yang mau tidak mau harus  mereka lewati, dikarenaka ini menjadi jalur satu satunya dan tidak ada alternative lain. Memang sekarang ini musim hujan, jadi lumpur di sepanjang jalur ini cukup banyak, dan konon katanya dimusim kemaraupun jalur ini kadang masih berlumpur, itu dikarnakan cahaya matahari tidak sampai menembus pepohonan yang menyelimuti sepanjang jalur pendakian,

“ ahhh jalur sialan,” Keluh Kailash

 lagi lagi Kailash mengeluh tentang jalur pendakian. Tapi persetan dengan jalur pendakian, Kailash harus tetap bersemangat dan tetap melangkah untuk mencapai puncak.

Tapat di pukul 5 sore mereka telah sampai di puncak bayangan, ini menjadi area camping terakhir, dan tidak cukup luas untuk  mereka  mendirikan tenda disini. Bisa terbayang , 27 orang untuk sekitar 5 sampai 6 tenda tentu saja akan kesulitan untuk mendirikannya dilahan yang sempit, ditambah lagi memang rencana awal mereka  adalah camp di puncak Gunung Salak. Ada kejadian unik dan cukup menyebalkan, masih ingat dengan 1orang yang gagal ikut? Yah sial mereka mendaftarkan orang tersebut, sehingga kita terhitung mendaki ber-28. Kami mulai berhitung, takut-takut ada yang tertinggal, dan benar saja mereka merasa kekurangan orang, mereka melihat data ada sekitar 28 orang,  tapi yang ada dilokasi hanya 27orang. Kondisi saat itu hujan deras jadi mereka sangat kesulitan untuk melakukan perhitungan peserta, sampai akhirnya setelah panik sana sini, ditemukan kalau mereka memang hanya ber-27 saja, karna 1orang telah mengundurkan diri untuk tidak ikut. Nafas dan raut muka tenang terlihat dari ketua panitia yang merasa lega denga hal tersebut.

Mereka menunggu cukup lama, dan hujan hujan tidak kunjung reda. Yang terjadi adalah obrolan santai diantara peserta pendakian mulai terdengar ramai, ada yang makan mie instan, menyeruput kopi dan menyalakan kompor untuk sekadar menghangatkan tanga mereka. Hingga pada akhirnya sekitar pukul 6 sore lebih 15 menit hujan berehenti dari jatuhnya dan rombongan berencana untuk melanjutkan perjalanan.

Kali ini jalur menukik tajam ke arah bawah dan naik diujung jalannya, jalur sangat tidak terlihat dan mereka mulai memasang headlamp dan berusaha untuk selalu diformasi yang sama. Jalan setapak yang rumit dan terjal tentu menjadi tantangan tersendiri, dan Kailas masih dengan keluh kesahnya,

“ yatuhan, jalur sialan”. Kailas menggerutu dalam hatinya

Selain jalur yang menyulitkan langkah Kailash dan teman temannya, mereka juga harus berhati hati kalau kalau ada lubang yang tidak terlihat didepan mata. Perlahan lahan , langkah demi langkah, tanjakan demi tanjakan mereka telah lalu dengan susah payah. Lagi Kailash bergumam dalam seraya melangkah,

“ benar apa yang mereka bilang, disini mata akan bekerja lebih lama dari biasanya, kaki yang akan bekerja lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, dan mulut yang akan selalu berdoa”. Kailash terlihat sudah tak tahan lagi dengan keadaan tersebut.

Hari semakin gelap, terang tak lagi terlihat, hanya sorot senter kepala yang berusaha menembus gelapnya malam. Pendakian kali ini Kailash berada sedikit lebih kebelakang dari formasi awal, pada saat yang berasaam rombongan berhenti sejenak dan melihat ada 2 orang pendaki sedang berajalan menuju arah puncak, cahaya senter kepala mereka terlihat pudar dalam kegelapan, Kailash mencoba untuk memanggil,

“ heyyyy “. Teriak Kailash yang cukup keras

Heran setelah beberapa teriakan dari Kailash dan temannya yang lain, namun tak kunjung mendapat jawaban dari arah kedua pendaki itu berjalan. Pemimpin rombongan dibagian paling depan memberi aba aba untuk berjalan kembali supaya peserta terus bergerak dan tidak kedinginan. Akhirnya setelah lama berjalan dan berjalan suara sayup pendaki lain yang mengobrol dari arah puncak mulai terdengar, terlihat senyum tanda bahagia mulai terlihat dari teman teman pun Kailash yang sudah tak tahan lagi.

“ Puncak 5 menit lagi” ucap seseorang dibarisan depan

Kalimat ini mulai dipahami Kailash sebagai kalimat yang menyebalkan, bagaimana tidak hal tersebut hanya menjadi penyemangat sesaat , dan Kailash sangat tidak menyukai kalimat tersebut.

Sekitar pukul 9 malam, akhirnya rombongan sampai di Puncak Gunung Salak, perasaan Haru dan senyumpun terpancar dari peserta rombongan pendakian, dan kata selamat saling bersahutan satu sama lain, capai yang sedari tadi menggerogoti mental dan akhirnya terbayarkan. Kailash tertunduk lesu merasai sekujur tubuhnya kelelahan, tangan sudah tak kuasa lagi untuk sekadar memegang minum, kaki tak kuasa lagi untuk berdiri.

Setelah semua dirasa memungkinkan, rombongan mendirikan tenda , sebagian orang berkumpul untuk sekadar brcerita tentang perjalanan sedari bawah hingga akhirnya sampai di Puncak, sebagian lagi membersihkan lumpur lumpur yang menempel di baju celana dan sepatu mereka. Riuh suara manusia berbicara terdengar sahut sahutan, perasaan seperti ini adalah perasaan yang membahagiakan bagi sebagian pendaki, ditemani dinginnya malam yang sesekali kabut turun untuk sekadar menyapa mereka yang sedang asyik bersua dan berbincang. Sudut kota tak terlihat disini, tak seperti pendakian pertama Kailash ke Gunung Gede, yang mana Kailash sangat takjup dengan hamparan sudut kota dan lampu lampu yang berkilauan di kejauhan, disini tidak, tidak ada sedikitpun, hanya gelap sejauh mata memandang.

Malam berlalu, tugas sang surya menyapa pagi kali ini. Kailash yang sangat kelelahan tentu saja tidak sempat bertemu dengan sang surya yang diam diam menyapa dipagi buta, dia terbangun cukup siang dan mendapati teman teman yang lain sedang asyik mengobrol sambil meminum coklat panas dan biscuit jahe di masing masing tangan mereka.

“ selamat pagiiii duniiiaaaa”. Kailash menyapa teman teman nya

“ wihhh udah bangun lu”. Dimas menyaut dari kerumunan yang sedang asyik mengobrol itu

“ udah dong, cape banget sih pendakian kali ini, setuju nggk?”. Kailash bertanya

“ beda ya sama gunung sebelumnya,”. Sambil tertawa Dimas seperti sedang meledek Kailash

Kailash pun terlibat obrolan hangat dengan teman teman nya itu. Disini Kailash mendapat banyak teman baru, mereka berfoto ria dengan pelakat pendana Puncak Manik 2211 Mdpl Gunung Salak. Sementara yang lain sedang sibuk mempersiapkan makanan, Kailash tengah asyik memandangi puncak Gunung Salak yang lain sembari membayangkan seorang Herman Lantang yang menjelajahi enam puncak Gunung Salak.

Herman Lantang adalah sosok yang Kailash kagumi setelah seorang Soe Hok Gie yang menjadi idolanya di dunia pendakian. Terlebih lagi setelah menonton film dokumentar tentang Soe Hok Gie, dan Herman Lantang yang menjadi orang yang sangat dekat dengan Soe Hok Gie.

Setelah puas memandangi hijaunya pegunungan gunung Salak, Kailsh dipanggil untuk makan sebelum kembali turun. Dan sekitar pukul 11 siang, rombongan mulai siap siap utuk turun gunung.

Turun dari gunung ternyata sama menyebalkannya ketika naik gunung Salak, kali ini selain beban yang terasa menjadi 2 kali lipat lebih berat karena faktor turunan, ditambah lagi jalur yang berlumpur dan terkadang hujan sebentar ketika kabut turun, dan hilang secara tiba tiba, sangat menyebalkan. Lagi lagi mereka diguyur hujan yang begitu  deres, dan terpaksa harus mendirikan bivak ditengah perjalanan, namun kali ini cukup beruntung karena berada di lahan yang cukup luas untuk membuat bivak dan mendirikan flysheet.

Setelah berkutat dengan jalur yang menyebalkan, sekitar pukul 6 sore ba’da maghrib, mereka sampai dipintu gerbang jalur pendakian. Masih ingat dengan tempat registrasi dan pintu gerbang itu berjarak cukup jauh?. Sial malam itu mereka mengalami kesialan, mobil tidak ada yang bisa menjemput mereka hingga pintu gerebang pendakian. Tapi untungnya setelah menghubungi kesana kemari, ada rekan dari panitia lain yang bisa dihubungi untuk menyewa mobil dan menjemput mereka, meskipun mereka hanya bersedia menjemput dan mengantar hingga terminal saja, yang mana jarak menuju ke rumah masih sangat jauh.

Tidak cukup disitu, mereka mengalami kesialan yang lain, mobil yang harusnya menjemput mereka untuk pulang kerumah ternyata mereka pergi begitu saja, membuat panita harus berpikir ulang untuk mencari kendaraan baru. Mereka terdampar begitu saja, tidur diemperan pertokoan hingga malam berubah menjadi pagi buta.

Sekitar pukul 3 pagi akhirnya mereka menemukan angkuta yang bis amengantar mereka untuk kembali pulang ke rumah.

“.. pendakian ini sangat menyebalkan”. Kailash lagi lagi mengerutu.

Akhirnya di jam 6 pagi mereka sampai di basecamp dan pulang kembali ke rumah masing masing. Pendakian yang luar biasa, menguras tenaga, mental dan kesabaran yang luar biasa.

“… terimakasih Gunung Salak, aku mencintaimu”. Kailash merasa terharu dengan pendakian kali ini.

 

GUNUNG GEDE PANGRANGO

 MENDAKI GUNUNG GEDE

“…dikala semesta menyapa untuk pertama kalinya”

 

Disebuah kampung ada seorang laki laki yang sangat ambisius dalam mendapatkan apa yang dia inginkan.

Dia adalah Kailash, orang yang cukup humoris, idealis dan fantastis, kailash selalu menginginkan apa yang menurutnya menarik dan Kailash akan berusaha untuk mendapatkannya dalam jangka waktu lama atau sebentar sekalipun. Dan hari ini adalah hari dimana Kailash mencoba hal baru yang belum dia lakukan sebelumnya, Kailash disekolah adalah seorang yang cukup aktif dalam pramuka, dimana kegiatan outdoor menjadi sangat menyenangkan bagi seorang kailash. Oh iya sampai lupa, mungkin nama kailash tidak terlalu familiar ya, tapi banginya nama kailash memiliki arti yang cukup mendalam, ayahnya sengaja memberikan nama ini untuk Kailash, karna kecintaannya terhadap alam. Ayahnya adalah seorang yang memiliki hobi naik gunung dan kegiatan outdoor lainnya, tak heran ayahnya menjadi salah satu founder dari komunitas terbesar di kota tersebut. Nama kailash sendiri itu berasal dari nama sebuah gunung yang memiliki ketinggian 6638Mdpl dan berada di Prefektur Ngari, wilayah otonomi Tibet, alasan kenapa aku diberikan nama ini adalah agar aku menjadi seorang yang tidak mudah patah semangat dan selalu mengingat tuhannya, kenapa begitu? Karna kailash adalah gunung yang dianggap gunung suci.

Kailash lahir dan besar di keluarga yang cukup giat terhadap kegiatan outdoor, maka tak heran jika seorang Kailash menjadi seorang yang sangat menyukai kegiatan outdoor tersebut. Hari ini Kailash berkenalan dengan seorang teman dari kakaknya sendiri dan kebetulan dia memiliki ketertarikan yang sama dengannya, yang membedakan adalah dia telah terjun terlebih dahulu dalam hal pendakian sedangkan Kailash hanya tertarik saja, alhasil ditahun 2014 Kailash memutuskan untuk melakukan pendakian, dan gunung pertama yang akan Kailash daki adalah Gunung Gede.

Sebelum melakukan pendakian, Kailash sebagai pemula tentu saja harus banyak belajar dan bertanya terhadap senior atau orang yang sudah berpengalaman, dia ingat waktu itu temannya bilang bahwa “bawa saja baju yang hangat seperti jaket, kaos kaki dan yang paling penting sleepingbag,” untuk carrier kebetulan Kailash telah  diwarisi oleh ayahnya, Eiger tahun 95 bekas ayahnya yang dulu dia pakai untuk berkelana. Ada satu hal yang lucu dalam pendakian pertama seorang Kailash, yaitu temannya meyuruh untuk menggunakan sepatu yang tidak datar dan membentuk lekukan dibagian bawahnya, dan bodohnya Kailash, dia melihat ada sepatu bekas ayahnya yang sudah tidak terpakai. Dia ambil dan dia pakai untuk pendakian. Ternyata seorang Kailash kelitu dan salah menafsirkan apa yang temannya katakan, yang dimaksud temannya itu adalah sepatu gunung, dan yang dipakai Kailash adalah sepatu pantopel, sepatu formal yang biasa ayahnya pakai dulu, dan Kailash memakainya untuk pendakian ke gunung, lucu sekaligus terdengar gila.

Oh iya pendakian pertamanya, dia tidak hanya dengan teman kakaknya itu, dia dibarengin dengan temen sekelasnya yang sengaja kabur agar bisa ikut pendakian, Mira dan Lesatri namanya, pun Kailash juga sengaja kabur karna izin dari orang tua tentu tidak mudah dia dapatkan, orangtuanya sangat khawatir karna Kailash masih duduk dibangku sekolah kelas 11.

Hari pendakian pun tiba, titik kumpul ada dirumah salah satu anggota sispala SMKN 1 Kota Sukabumi, Bolang namanya, dia orang yang humanis ramah dengan orang baru, cukup humble , jadi Kailash merasa tidak kesulitan untuk berbicara dengannya. Keesokan harinya kita berangkat ke basecamp Gunung Gede Pangrango, sekitar pukul 7 pagi , mereka mulai melakukan pendakian dan langsung dihadapkan dengan tanjakan yang cukup panjang, mereka menamai tanjakan ini dengan nama turdo (Tuur gado) dalam bahas Indonesia lutut ketemu dagu, karna saking curamnya tanjakan itu. Tanjakan pertama berhasil dilewat dengan menggunakan sepatu formal ayahnya yang sangat menyebalkan, rasanya sudah mulai sakit dan sudah pasti sangat tidak nyaman. Oh iya pendakian ke gunung Gede ini mereka mengambil jalur pendakian yang relatif sepi, karna terkenal dengan jalur yang cukup panjang dan curam, Selabintana namanya, untuk para pendaki Gunung Gede, via selabintana kurang rekomendasi apalagi untuk pemula, dan bodohnya dia , dia malah ikut pendakian yang mengambil jalur pendakian via Selabintana untuk pendkaian pertamanya.

Jalur yang cukup menantang, dan tertnyata fisiknya tidak sekuat yang dia duga, banyak berhenti dan berhenti, temanku sangat sabar melihatku banyak berhenti. Ada  banyak faktor, pertama karna ini adalah pendakian pertamanya, kedua karena memang Kailash sangat jarang sekali untuk berolahraga, ketiga tentu sepatu sialan hasil kebodohannya itu yang membuatnya tersiksa sepanjang jalur pendakian Pendakian terasa lama dan menyebalkan, naik turun bukit naik lagi sampai disatu titik pikirannya tidak bisa selaras dengan gerakan kakiknya, banyak orang mengatakan bahwa itu adalah tanda dimana kondisi seseorang sangat cape.

“Yatuhan menggapai awan saja perlu perjuangan sebesar ini” Gumam Kailash dalam hati yang penuh kekesalan.

Perjalan berlangsung sangat lama, mereka berangkat pukul 7 pagi, sialnya pukul 4 sore merka masih di Pos 2, Cileutik pos terakhir sebelum menuju Suryakencana, yang katanya surganya edelweiss dengan luas 50Ha berada diketinggian 2750Mdpl selisih 208Mdpl dari Puncak tertinggi gunung Gede dengan ketinggian 2958Mdpl. kemabali lagi ke pendakian, setelah selesai sholat dan makan dan sesekali bersendagurau dengan teman teman yang lain, sekitar pukul 4.30 sore mereka kembali berjalan, konon katanya jalur pendakian terakhir ini adalah jalur yang paling berat, karna tidak ada ampun sama sekali, tidak ada jalur yang landai, semua tanjakan. Kembali ke sepatu sialan itu, mungkin jika sepatunya bisa berbicara, dia akan meledek Kailash dengan terkekeh,

“mampus kau, rasakan kenikmatan setiap langahmu itu” mungkin demikian jika dia bernyawa dan bisa berbicara.

Setelah langit mulai gelap, pepohonan mulai terlihat pendek dan langit mulai menyapa disetiap ujung ranting pohon dan udara yang semakin dingin, mereka akhirnya sampai dimana satu langkah menuju surganya gunung Gede, dan Selamat Datang di Suryakencana. Mungkin terdengar cengeng dan menyebalkan, tapi airmata haru dan bangga mulai membasahi pipi Kailash perlahan lahan, dia melihat hamparan edelweiss yang wangi dan keindahan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya, pantas saja disebut Surganya Gunung Gede.

Masih ingat dengan sepatu sialan hasil kebodohan kailash? Ya, dia berhasil membuat kaki Kailash keram dan lecet, dia ini sekaligus akan menjadi malam yang cukup panjang untuknya, membiarkan kakinya istirahat dengan maksimal, dan merasai setiap kesakitan ditelakapak kakinya. Keesokan harinya Kailash memutuskan untuk tidak mengenakan sepatu sialan itu, dia lebih memilih mengenakan sandal gunung saja.

Pagi buta mereka bangun lebih awal, bahkan sang suryapun sepertinya masih terlelap dalam tidurnya. Suara langkah mulai terdengar, pun dengan suara kaki Kailash yang saling bersahutan langkah demi langkah hingga tiba disatu titik, tiba tiba hidung Kailash mulai merasa pengap dengan udara yang mulai menipis, bau belerang yang dia kira hanya kentut temannya mulai menyengat, itu dikarenakan Gunung Gede ini merupakan gunung yang masih aktif dan tercatat terakhir kali melutus pada tanggal 13 Maret 1957. Oh iya kalian pernah dengar tidak gunung tidak akan meletus karna terus menerus disuntik? Sial sepertinya hanya Kailash saja yang percaya dengal hal itu, haha lucu sekali ternyata. Oh iya ada cerita tentang siapa pendaki gunung Gede pertama, ya ditahun 1817 Caspar Georg Karl Reinwardt mejadi orang pertama yang mendaki gunung Gede dan sampai ke puncak, beliau juga menjadi salah satu founder atau yang membangun Kebun Botani (Botanical Garden). Kemabali lagi ke pendakian pertamanya, sudut sudut puncak Gunung Gede berhasil menghipnotis seisi kepala seorang Kailash, dia terlihat hanya termenung menyaksikan lukisan tuhan yang nyata, lambayan pepohonan yang diterpa angin, hembusan gas vukanis yang seakan menari nari diudara, dan tegaknya Gunung Pangrango yang seakan berteriak meminta untuk dicumbui, dan jurang jurangmu yang seakan menjadi pembatas antara Kailash dan Gunung Gede yang saling jatuh cinta untuk pertama kalinya. Hari itu adalah hari dimana seorang Kailash jatuh cinta terhadapmu terhadap ciptaan tuhan, kelak dia akan kembali dengan perasaan suka cinta.

Esoknya kailash kembali pulang, berjalan dengan sejuta cerita, dan senyum tanda bahagia, tak lupa rindu yang selalu terasa tanpa pernah ada ujungnya.

Rabu, 23 Maret 2022

KONSEP TRILOGI KENUSAPUTRAAN

Dalam trilogi kenusaputraan ada beberapa poin

  • Cinta kepada tuhan
  • Cinta kepada orang tua
  • Cinta kepada sesama

Cinta kepada tuhan bisa dimaknai berbagai macam cara, seperti melakukan kewajiban sebagai umat beragama tentunya, melakukan kegiatan peribadatan dan sebagainya. Dalam hal ini saya berpendapat bahwa cinta kepada tuhan bisa diwujudkan dengan cara merasa sangat senang ketika bertemu dengan yang dicintai, tidak bosan bertemu dengan yang dicintai, karna ketika kita tidak senang, merasa bosan dengan yang kita cintai maka cintanya harus dipertanyakan. Biasanya orang yang sudah mencintai tuhannya akan selalu mencari alasan atau selalu mencari waktu agar bertemu dengan yang dicintainya dan memprioritaskan yang dicintainya. Bisa dengan dimana saja melakukan ibadah sesuai waktu yang sudah ditentukan, menyempatkan berdoa setiap sebelum dan sesudah berkegiatan, menyempatkan waktu untuk terus bertemu  tuhan. Garis besarnya adalah selalu merasa senang dalam beribadah kepada tuhan.

Yang kedua cinta kepada orang tua, dalam mewujudkan cinta kepada orang tua, saya rasa tidak melulu kita harus memberikan mereka uang, materi dan sebagainya, bentuk cinta kepada orang tua bisa dengan mematuhi apa yang menjadi kehendak mereka, dan kalaupun tidak sesuai dengan apa yang kita kehendaki maka untuk saya pribadi saya selalu melakukan diskusi, selain itu kita juga bisa menghargai beliau ketika berbicara, tutur kata yang baik dan bisa menerima sepenuhnya kekonsevatifan mereka. Kita tau sendiri memaksakan pemikiran konservatif di era sekarang susah, apalagi anak anak zaman sekarang adalah anak anak dengan pemikiran bebas, pemikiran modern jadi kita selalu anak milenial harus menerima sepenuhnya pemikiran konsevatif beliau. Dan bagi saya itu adalah salah satu bentuk cinta kepada orang tua kita.


Yang terakhir adalah cinta kepada sesame, dalam hal ini sikap yang sama harus kita terapkan seperti yang kita terapkan kepada orang tua, basically kita respect dengan rekan sesama lingkungan belajar, bekerja, bermain dan dalam segala hal. Mencintai sesame bisa diwujudkan dengan cara tidak memaksakan kehendak kita terhadap orang lain, menghargai apa yang menjadi keyakinan ornag lain, sehingga dengan begitu kita bisa mendapatkan cinta kasih dari sesama.





Kamis, 08 Oktober 2020

JENGAH

Waktu terus berjalan
Hari demi hari terus berlalu

Pagi ini seperti biasa jam beker selalu membangunkanku tanpa pernah meleset sedetikpun
Dan aku bersiap kembali dimana aku merepetisi semuanya
Menikmati tarian tangan diatas keyboard
Mendengarkan alunan suara printer
Atau ocehan demi ocehan yang membuat pengang seisi telinga

Pernah suatu ketika berfikir untuk keluar dari zona dimana aku seperti monyet tua yang dikurung, makan minum tidur, makan minum tidur, hanya itu saja yang selalu aku lakukan dan minggu adalah waktu dimana aku menghabiskan waktu dengan tidur seharian.

Tidak, aku tidak bisa, semua itu sangat memberatkanku, sesekali Amigdalaku meronta-ronta berkata untuk segera keluar tapi Logikaku selalu berkata bersabarlah.

Malam adalah waktu dimana aku sangat merasa sebal, malam adalah waktu yang selalu dimanfaatkan logika dan amigdalaku bertengkar, membicarakan hal yang sama terus menerus tanpa ada kata sudah.

Logikaku selalu berkata “ tidulah kau, besok adalah hari dimana kita bersenang senang dengan pekerjaan kita, ayo beristirahatlah”
Tetapi Amigdalaku dengan segala ketidmapuananya berkata “ ayolah kau itu hebat, kau itu mampu menaklukan semuanya, yang kau butuhkan adalah sedikit emosi lalu bergeraklah”

Semuapa serentak merepetisi hal yang sama setiap malam setiap waktu menunjukan untuk tidur, melelahkan, sangat melelahkan, Sampai suatu ketika aku tiba disuatu pertanyaan 

“Apakah mimpimu sudah tidak layak lagi untuk diperjuangkan? Atau semuanya menguap menjadi angan angan?”

Senin, 25 Mei 2020

NOSTALGIA

Senja ini ketika matahari mulai merampas kesetiaan sang surya
Aku kembali

Mengenang setiap luka tanpa makna
Mengenang setiap iba tanpa bahagia
Mengenang setiap luka penuh cerca

Malam kembali menampakan kemuramannya
Bahkan aku tak bisa menolak kehendak 

Minggu, 10 Mei 2020

Melupa

Kita pernah saling melupa
Melupa bahwa kita pernah berjalan ke arah yang sama
Melupa bahwa kita pernah seberjuang itu untuk titik yang sama
Melupa bahwa kita memilkki perasaan dimana kau dan aku menjadi 2 onggok daging yang bukan hanya punya nama

Semesta selalu saja memberi kejutan tanpa pernah minta persetujuan kita
Semesta selalu punya untuk banyak hal
Semesta selalu selalu punya hal yang gak pernah kita duga sebelumnya

Semesta mungkin terkekeh melihat tingkah kita
Kita yang selalu sembunyi dalam keogoisan kita
Kita yang selalu sembunyi dalam ketidak mampuan kita
Dan kita yang sealalu enggan mengiyakan tentang apa saja yang semesta telah karuniakan untuk kita

Dan semoga dengan semesta yang begitu menggemaskan inikita tidak akan pernah lupa, 
Bahwa kaki kita pernah satu irama
Bahwa mulut kita pernah mengucap janji yang sama
Bahwa semuanya tidak akan pernah timbul tanya yang berujung kecewa

Jakarta 11/5/20

MANUSIA ANJING 19/03/2025 Manusia yang dengan penuh kebebasan , bisa melakukan banyak hal, menjadi manusia yang bebas terbang melewati cakra...